Saturday, October 17, 2020

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH

hubungan manusia dengan allah


Setiap manusia khususnya seorang muslim harus menjalin hubungan yang baik dengan Allah T, sehingga tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan Nya.

Dalam Al Quran, setidaknya ada beberapa hubungan yang harus kita jalin kepada Allah T, yaitu sebagai berikut ;

1.      Al mahabbah (Cinta)

Setiap manusia harus mencintai Allah di atas kecintaan kepada apa pun dan siapapun juga. Allah T berfirman ;

 

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 

24.  Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

(At Taubah : 24)

 

BACA JUGA :


Oleh karenanya, tidaklah dikatakan ciri seorang mukmin apabila kadar kecintaan pada Allah sama dengan kecintaan pada hal lain. Firman Allah T ;

 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذۡ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعَذَابِ 

165.  Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

(Al Baqoroh : 165)

 

Serta hadits Nabi ﷺ dari Anas bin Malik

قال ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما

"Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya”

(Shohih Bukhari dari Anas bin Malik, No : 15)

 

2.      At Tijarah (Perdagangan)

Dalam perdangan tentu ada penjual dan pembeli. Berkaitan dengan hubungan sang Khaliq, maka di sini Allah sebagai pembeli dan manusia sebagai penjual. Penjual harus mau menyerahkan barangnya kepada pembeli. Dia harus korbankan jiwa beserta hartanya di jalan Allah, dan Allah akan membayarnya dengan surga, sebagaimana firman Nya ;

 

۞إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُواْ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِي بَايَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ 

111.  Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

(At Taubah : 111)

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 

10.  Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

11.  (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

(Shaf : 10-11)

 

3.      Al Amar (Kerja)

Sebagai muslim dan mukmin juga kita tentu harus bekerja kepada Allah yang dibahasakan dengan amal shaleh serta tidak menyekutukan Allah dengan apa pun. Dan ini menjadi syarat untuk bisa berjumpa dengan-Nya. Allah T berfirman ;

 

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا 

110.  Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

(Al Kahfi : 110)

 

والله اعلم

 

Advertisement
Advertisement

Friday, October 16, 2020

KEBERKAHAN DALAM HIDUP

KEBERKAHAN DALAM HIDUP


TIGA BENTUK KEBERKAHAN DALAM HIDUP


Setiap orang tentu saja ingin memperoleh keberkahan. Secara harfiah, berkah berarti “an nama’ waz ziyadah”, yakni tumbuh dan bertambah. Jadi, berkah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya. Sehingga, apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya. Ini akan diberikan kepada orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah T. mari kita lihat firman Allah berikut ;

 

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ 

96.  Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

(Al A’raf : 96)

 

Secara umum, keberkahan yang diberikan Allah T kepada orang-orang yang beriman dapat kita bagi ke dalam tiga bentuk, yaitu ;

1.      Berkah dalam keturunan

Berkah dalam keturunan, yakni dengan lahirnya generasi yang shaleh. Generasi yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal shalehnya. Allah T berfirman

 

وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ فَضَحِكَتۡ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ 

71.  Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub.

72.  Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh".

73.  Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

(Hud : 71-73)


BACA JUGA :


2.      Berkah dalam makanan

Makanan yang halal dan baik merupakan salah satu bentuk keberkahan juga. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah T surah Al a’raf ayat 96 di atas, yaitu salah satu rezeki adalah makanan. Allah T berfirman ;

 

وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ 

88.  Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

(Al Maidah : 88)

 

3.      Berkah dalam waktu

Waktu yang cukup tersedia dan dimanfaatkan untuk kebaikan merupakan suatu keberkahan yang menghindarkan dari kerugian. Allah T berfirman ;

 

وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ 

1.  Demi masa.

2.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3.  kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(Al A’shr : 1-3)

 

Oleh karenanya, untuk memperoleh keberkahan, kuncinya ada dua (2), yaitu ;

1.      Iman dan Takwa yang benar

Di dalam surah Al A’raf : 96 di atas, sudah dikemukakan bahwa Allah akan menganugerahkan keberkahan kepada hamba-hamba Nya yang beriman dan bertakwa. Karena itu, ditekankan sangat untuk mengkokohkan serta menjaga takwa kita. Allah T berfirman ;

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ 

102.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

(Ali Imran : 102)


2.      Berpedoman kepada Al Quran

Al Quran merupakan sumber keberkahan. Sehingga, apabila berpedoman dan menjalankan pesan-pesan yang terdapat di dalamnya, niscaya kita akan memperoleh keberkahan dari Allah T. Allah berfirman ;

 

وَهَٰذَا ذِكۡرٞ مُّبَارَكٌ أَنزَلۡنَٰهُۚ أَفَأَنتُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ 

50.  Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?

(Al Anbiya’ : 50)

 

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ 

29.  Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

(Shad : 29)

 

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 

155.  Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.

(Al An’am : 155)

 

والله اعلم

Advertisement
Advertisement

Thursday, October 15, 2020

TIGA BENTUK MUHASABAH

TIGA BENTUK MUHASABAH


bentuk muhasabah atau introspeksi diri

Muhasabah secara literasi adalah melakukan perhitungan atau introspeksi diri. Secara istilah keagamaan adalah upaya mengevaluasi diri sendiri atau kolektif dengan memeriksa adanya kebaikan dan keburukan pada dirinya sendiri dalam segala aspek.

Perputaran waktu merupakan momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Allah T berfirman ;

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 

18.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(Al Hasyr : 18)

 

Muhasabah bisa kita lakukan dengan tiga bentuk ;

1.      Muhasabah sebelum berbuat

Yaitu dilakukan dengan memikirkan terlebih dahulu, apakah yang hendak dilaksanakan itu sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya atau tidak. Bagi orang yang beriman, dia akan menyesuaikan diri dengan apa yang Allah kehendaki, sebagaimana firman-Nya ;

 

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 

29.  Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

(At Takwir : 29)

 

2.      Muhasabah saat melakukan perbuatan

Yaitu dilakukan dengan selalu mengontrol diri agar tidak menyimpang dari apa yang semestinya dan bagaimana dilaksanakan. Hal ini dapat mencegah kemungkinan terjadinya penyimpangan pada saat melaksanakan sesuatu atau menghentikannya sama sekali.


BACA JUGA :


3.      Muhasabah setelah mengerjakan perbuatan

Yaitu dilakukan dengan maksud agar kita dapat mengevaluasi jikalau menemukan kesalahan yang kita lakukan, lalu menyesali dengan bertaubat dan tidak akan melakukannya lagi pada masa-masa mendatang.

 

Bahaya yang akan ditimbulkan bila diri kita tidak melakukan introspeksi diri atau muhasabah ;

1.      Menutup mata dari berbagai akibat

Kesalahan dan dosa yang dilakukan manusia tentu ada akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Manakala seseorang tidak melakukan muhasabah, dia akan menutup mata dari berbagai akibat perbuatan yang buruk, baik akibat yang menimpa diri dan keluarganya maupun akibat yang menimpa orang lain.

2.      Larut dalam keadaan

Efek negatif berikutnya adalah dari tidak melakukan muhasabah adalah seseorang akan larut dalam keadaan sehingga dia dikendalikan oleh suasana bukan menjadi pengendali

3.      Mengandalkan ampunan Allah

Setiap orang yang berdosa memang mengharap ampunan dari Allah T. akan tetapi, bagi orang yang tidak melakukan muhasabah hanya akan mengandalkan ampunan dari Allah T tanpa bertobat sebab, tidak mungkin seseorang bertobat tanpa muhasabah. Tobat itu harus disertai dengan menyadari kesalahan, menyesali dan tidak akan mengulanginya lagi.

4.      Mudah melakukan dosa

Tidak melakukan muhasabah juga akan membuat seseorang mudah melakukan dosa dan menyepelekannya. Orang yang tidak melakukan muhasabah bahkan tidak hanya mudah melakukan dosa, bahkan dosa itu menjadi sikap kepribadiannya. Sehingga, meskipun menurut pengakuannya sudah bertobat dari dosa itu, tetap saja dia mengulang-ulang perbuatan dosa tersebut.


والله اعلم

Advertisement
Advertisement

Wednesday, October 14, 2020

TERWUJUDNYA MASYARAKAT BAIK

TERWUJUDNYA MASYARAKAT BAIK

masyarakat yang baik

Terwujudnya masyarakat yang baik merupakan dambaan kita semua. Al Quran menyebutkan hal-hal pokok menuju hal tersebut. Allah T berfirman ;

 

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 

159.  Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

(Ali Imran : 159)

 

Berdasarkan ayat di atas, ada tiga faktor penting menuju terwujudnya masyarakat yang baik, yaitu sebagai berikut :

1.      Pemimpin yang lemah lembut dan pemaaf

Masyarakat secara fitrahnya, pasti membutuhkan pemimpin. Dan pemimpin yang dibutuhkan untuk menjadikan masyarakat yang baik adalah seorang pemimpin yang baik. Di antara pemimpin yang baik adalah mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya, sehingga ia berlaku lemah lembut kepada masyarakat dan memaafkan bila rakyatnya melakukan kesalahan. Itulah yang dicontohkan Rasul ﷺ ketika Perang Uhud mengalami kekalahan disebabkan sahabat yang tidak disiplin.

2.      Menegakkan asas musyawarah

Jmaah dan masyarakat yang baik juga selalu memperhatikan musyawarah dalam proses pengambilan keputusan. Karenanya, meskipun para sahabat Nabi ﷺ bersalah dan Rasul memaafkan, maka mereka harus dilibatkan dalam musyawarah. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka telah dimaafkan.


BACA JUGA:


3.      Bertawakkal kepada Allah ﷻ

Masyarakat yang baik harus sangat menjunjung tinggi hasil musyawarah. Dengan hasil musyawarah yang mengharap ridho Allah T, dan mereka harus yakin hasil musyawarah tersebut dapat membawa kebaikan. Kemudian, mereka bertawakal kepada Allah T dalam pelaksanaan. Karena itu, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.

Advertisement
Advertisement

HUKUM SABUNG AYAM

HUKUM SABUNG AYAM

hukum sabung ayam

Sabung ayam yang kita kenal selama ini mengadu atau melaga ayam untuk berkelahi, melukai ayam satu dengan ayam lain.

Sabung Ayam disertai judi atau tidak, hukumnya tetap berdosa dan haram bagi pelakunya.

 

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن التحريش بين البهائم.

“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Salam melarang mengadu hewan”.

(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas).

 

Walaupun hadits di atas dikategorikan sebagai hadits dhoif / lemah, akan tetapi menurut Imam Nawawi rahimahullah berkata “Diharamkan mengadu hewan dg dasar hadits Ibnu Abbas Radhiyallshu ‘Anhuma”. Dalam juga dari hadits di atas, termasuklah sabung ayam, mengadu domba, melaga ikan dan hal-hal lain yang bersifat mengadu hewan


BACA JUGA :


Dalam al-Adab as-Syar’iyah, Ibnu Muflih mengatakan,

 

يكره التحريش بين الناس، وكل حيوان بهيم، ككباش وديكة وغيرها. ذكره في (الرعاية الكبرى)، وذكر في: (المستوعب) أنه لا يجوز التحريش بين البهائم.

"Sangat dibenci mengadu manusia dan seluruh binatang. Seperti kambing, ayam, atau yang lainnya. Sebagaimana keterangan yang disebutkan dalam kitab ar-Ri’ayah al-Kubro. Dan disebutkan dalam kitab al-Mustau’ib bahwa dilarang mengadu binatang".

(al-Adab as-Syar’iyah, 3/342).

 

Ibnu Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah,

 

يُكْرَهُ التَّحْرِيشُ بَيْنَ الْبَهَائِمِ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ إي لَعَمْرِي، وَالْأَوْلَى الْقَطْعُ بِتَحْرِيمِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ النَّاسِ

 

"Apakah mengadu binatang hukumnya makruh•••? Beliau menjawab, Subhanallah, sungguh aneh. Yang lebih layak, ini dihukumi haram melebihi mengadu manusia".

(al-Adab as-Syar’iyah, 3/342).


والله اعلم

Advertisement
Advertisement