Showing posts with label KISAH INSPIRATIF. Show all posts
Showing posts with label KISAH INSPIRATIF. Show all posts

Friday, August 28, 2020

KEMULIAAN HARI JUMAT - PEMUDA BEKERJA KEPADA ALLAH

بسم الله الرحمن الرحيم

kemuliaan hari jumat

KISAH PEMUDA YANG BEKERJA KEPADA ALLAH

Dikisahkan, ada dua orang bersaudara, yang keduanya beragama majusi (penyembah api) di zaman Imam Malik bin Dinar.

Salah satu saudara telah menyembah api selama 73 tahun, dan saudara yang lain telah menyembah api selama 35 tahun.

Lalu berkata saudara yang kecil kepada saudaranya yang lebih tua : “kemarilah! Mari kita menguji api ini. Apakah api menghormati kita atau dia akan membakar kita, sebagaimana dia membakar orang yang tidak menyembahnya. Maka, jika api itu menghormati kita, kita akan menyembahnya. Dan jika api itu membakar kita, kita tidah lagi menyembahnya”.

Saudara yang tua berkata : “ya.. benar yang kau katakan”.

Kemudian mereka menyalakan api, lalu berkata saudara yang kecil : “apakah kamu yang akan menaruh tanganmu ataukah saya yang menaruh tangan saya?”

Saudara yang tua berkata : “kamu yang menaruh tanganmu terlebih dahulu”.

BACA JUGA : SAKSI FITNAH ZINA NABI YUSUF


Maka, saudara yang kecil menaruh tangannya di atas api itu, dan api itu membakar jarinya. Dan ia melepaskan tangannya dari api itu.

Lalu Ia pun berkata : “saya telah menyembahmu selama 35 tahun, namun kamu masih menyakiti saya”.

Ia pun berkata kepada saudara yang tua : “marilah kita tinggalkan menyembah api ini. Dan kita menyembah Rabb dan Tuhan yang Esa. Dimana, jika kita berbuat dosa, dan kita meninggalkan perintah-Nya selama 35 tahun, umpamanya, maka Dia akan mengampuni kita dan memaafkan kita dengan sebab melakukan ketaatan satu jam saja dan memohon ampun satu kali saja.”

Saudara yang tua pun menyetujui rencana saudara yang kecil itu. lalu ia berkata : “merilah, kita pergi ke orang yang dapat menunjukkan kita ke jalan yang lurus dan ia dapat mengajarkan kita tentang agama islam”.

Perawi berkata : “mereka bersepakat kedua bersaudara itu untuk pergi ke Imam Malik bin Dinar, agar beliau memaparkan kepada keduanya tentang agama islam.

Kedua bersaudara itu pun pergi menjumpai Imam Malik, mendatangi beliau dan menemukan beliau saat beliau sedang berada di sekitar kita Bashroh (Irak), dimana beliau sedang duduk dengan masyarakat dan beliau memberi nasihat kepada masyarakat tersebut dan sungguh telah berkumpul bersama beliau, orang yang banyak sekali.

Tatkala terjatuh pandangan dua bersaudara itu kepada Imam Malik. Saudara yang tua berkata kepada saudara yang kecil : “sungguh, kelihatannya saya tidak akan masuk islam. Karena sesungguhnya, telah berlalu banyak usia saya dalam menyembah api. Dan jikalau saya masuk islam, dan saya kembali ke agama islam dan agama Nabi Muhammad, maka keluarga saya dan parang tetangga akan mencaci-maki saya. Dan api neraka lebih aku sukai dibandingkan caci-maki mereka”.

Lalu, saudara yang kecil berkata kepada yang tua : “jangan kamu lakukan hal itu! karena sesungguhnya caci-maki mereka, sungguh akan hilang, sedangkan api neraka adalah abadi, tidak dapat hilang.”

Namun, saudara yang tua itu tidak mau mendengar nasihat saudara yang kecil tersebut.

Berkatalah saudara yang kecil kepada saudara yang tua : “kamu dan prinsipmu itu, adalah orang celaka, putra orang celaka. Wahai orang yang sia-sia dunia akhirat”.

Maka pulanglah saudara yang tua dan ia pun tidak masuk islam.

________________

Dan datanglah saudara yang kecil itu bersama anak-anaknya yang masih kecil beserta istrinya. Mereka masuk ke tengah-tengah orang-orang di majelis tersebut, dan mereka duduk hingga selesai Imam Malik dari ceramah beliau dan nasehat beliau.

Kemudian, berdirilah saudara kecil itu menuju Imam Malik, dan ia menceritakan kepada Imam Malik tentang kisah mereka. Dan ia meminta beliau untuk memaparkan / menerangkan kepadanya dan kepada keluarganya tentang islam.

Imam Malik pun memaparkan dan menerangkan kepada mereka, dan mereka pun masuk ke dalam ajaran Islam. Dan menangis seluruh jamaah majelis di tempat itu, karena merasa gembira.

Dan ketika saudara kecil itu hendak kembali pulang, Imam Malik berkata : “duduklah!, hingga saya mengumpulkan untukmu dari para sahabat saya, sedikit dari harta dunia”.

Saudara kecil itu pun berkata : “saya tidak menghendaki untuk menjual agama dengan dunia”.

Ia pun beranjak pergi, lalu ia memasuki area bekas reruntuhan dan menemukan di sana satu rumah yang layak huni dan ia dan keluarganya tinggal di sana.

Tatkala memasuki pagi hari di keesokan harinya, istrinya berkata kepadanya : “pergilah ke pasar! Dan belilah dengan upahmu itu sesuatu yang kita dapat memakannya”.

Pemuda itu pun berdiri, dan pergi ke pasar. Namun, tidak ada yang mau mempekerjakan dirinya.

Ia berkata dalam hati : “saya akan bekerja di sana, untuk Allah ta’ala”.

Lalu, ia masuk mesjid yang telah ditinggal, yang tidak pernah digunakan lagi untuk shalat berjamaah. Maka, ia shalat di dalam mesjid itu karena Allah ta’ala sampai malam hari.

Ia pun kembali pada malam hari ke rumahnya dengan tangan hampa.

Istrinya berkata : “apakah kamu tidak mendapatkan sesuatu pada hari ini?”

Pemuda itu pun berkata : “wahai istriku! Sasya telah bekerja hari ini kepada sang Raja. Namun dia belum memberi saya sesuatu. Barangkali, Dia akan memberi saya esok hari”.

Mereka pun melewati malam dalam kondisi kelaparan.

Lalu, memasuki pagi hari di keesokan harinya, ia kembali ke pasar. Namun, ia tidak dapat juga pekerjaan.

Ia pun pergi ke mesjid itu dan shalat di sana karena Allah ta’ala sampai malah hari. Dan kembali pulang ke rumahnya dengan tangan hampa.

Bertanya istrinya kepada pemuda itu, suaminya : “apakah kamu tidak mendapatkan sesuatu juga pada hari ini?”

Pemuda itu berkata : “saya telah bekerja hari ini kepada sang Raja. Yang saya telah bekerja untuk-Nya kemarin. Saya berharap Dia akan memberi saya upah esok hari, pada hari Jumat”.

Maka, mereka pun melewati malam itu dengan kondisi kelaparan.

Tatkala memasuki pagi hari, pada hari Jumat. Ia pun pergi ke pasar, namun ia tidak mendapatkan pekerjaan. Lalu, ia pun pergi ke mesjid itu, lalu shalat dua rakaat, kemudian ia mengangkat tangannya ke langit dan berdoa : “wahai Tuhanku, Baginda saya dan Junjungan saya! Sungguh Engkau telah memuliakan diri saya dengan Islam. Dan Engkau telah menyematkan diri saya dengan mahkota Islam. Dan Engkau telah memberi petunjuk kepada saya dengan mahkota petunjuk. Maka, dengan kehormatan agama yang telah Engkau rezekikan agama tersebut kepada saya, dan kehormatan hari yang barokah, yang mulia, yang ukurannya di sisi-Mu sangat besar, yaitu hari Jumat. Saya memohon kepada-Mu agar engkau menghilangkan kegelisahan mencari nafkah bagi keluarga saya dan dari hati saya. Dan Engkau berkenan memberi rezeki kepada saya, dari arah mana saya yang tidak saya perhitungkan. Karena sesungguhnya saya, demi Allah, malu kepada istri dan keluarga saya. Dan saya khawatir terhadap mereka untuk berubah kondisinya. Karena masih baru kondisi mereka dalam agama Islam”.

Perawi berkata : “kemudian pemuda itu berdiri, dan ia menyibukkan diri dengan melakukan shalat dua rakaat”.

Tatkala tiab pertengahan siang hari, maka keluarlah pemuda ini untuk shalat Jumat.

_______________________

Setelah dikuasi oleh rasa kelaparan yang sangat terhadap anak-anak dan istri pemuda tersebut, tiba-tiba datang seorang lelaki ke pintu rumah keluarga tersebut. Lelaki itu pun mengetuk pintu untuk menemui mereka dan keluar lah istri pemuda tersebut.

Ternyata, lelaki tersebut adalah seorang lelaki yang berwajah tampan, di tangannya ada sebuah nampan dari emas, yang ditutupi dengan sapu tangan bersulam emas.

Lelaki itu pun berkata kepada istri pemuda tersebut : “ambillah nampan ini! Dan katakan kepada suamimu : ini upah kerjamu selama dua hari, maka tambahilah olehmu dalam bekerja, niscaya Kami pun memberi tambahan kepadamu. Kami memberi upah secara khusus di hari ini, hari Jumat. Karena sesungguhnya, amal yang sedikit di hari ini adalah banyak di sisi sang Maharaja, yang Maha Perkasa”.

Si istri pun mengambil nampan itu, dan ternyata di nampan itu terdapat uang seribu dinar.

Si istri mengambil satu dinar, dan dia pergi ke tempat penukaran uang. Dan, tukang penukar uang tersebut adalah seorang nasrani.

Ia pun menimbang uang dinar itu, lalu ia menambahkan dari satu mitsqol (4,5 gram) menjadi dua mitsqol (9 gram). Lalu, ia memperhatikan ke ukiran uang dinar itu, maka mengertilah ia bahwa uang itu merupakan hadiah dari surga. Dan ia bertanya kepada istri pemuda tersebut : “dari mana kamu dapatkan uang ini?”

Lalu istri pemuda itu pun menceritakan kisahnya.

Berkata si penukar uang tersebut : “paparkan-lah kepada saya tentang Islam!”

Setelah mendapat pemaparan, si nasrani penukar uang itupun masuk Islam, kemudian ia menyerahkan kepada istri pemuda tersebut sebanyak 1000 dirham.

Si penukar uang berkata : “kamu belanjakanlah uang tersebut! Lalu, jika uang itu telah habis, maka beritahulah saya!”

_____________________

Tatkala pemuda tersebut sudah selesai shalat Jumat, ia pun berlalu menuju rumahnya dengan tangan hampa. Dan ia membentangkan sapu tangannya, dan mengisi penuh sapu tangan itu dengan tanah. Dan ia berkata dalam hati : “jikalau istri saya berkata ‘apa ini’, maka saya akan berkata kepadanya ‘saya membawa tepung’”.

Setelah ia memasuki area reruntuhan, maka ia melihat ke rumah-nya, ternyata ia telah dipersiapkan sebuah karpet dan ia mendapati di dalam rumahnya itu akan aroma makanan.

Ia pun meletakkan sapu tangan yang berisi tanah di dekat pintu, supaya istri tidak mengetahui sapu tangan itu. dan bertanya kepada istrinya.

Si istri pun menceritakan kepadanya kisah tadi.

Maka, pemuda itu bersujud kepada Allah sebagai rasa syukur kepada Allah azza wa jalla.

Kemudia si istri berkata kepadanya : “apa yang kamu bawa di dalam sapu tangan itu?”

Berkata ia kepada istrinya : “jangan kamu bertanya kepada saya”.

Si istri pun pergi mengambil sapu tangan tersebut dan membukanya. Dengan izin Allah, sapu tangan yang berisi tanah berubah menjadi tepung. Maka, bersujudlah pemuda tersebut sebagai rasa syukur dan ia menyembah Allah hingga Allah mewafatkan dirinya.

______________

Berkata al faqih ; “angkatlah tangan kalian ke langit! Ucapkan lah ; ya Allah, dengan kehormatan hari Jumat, berilah ampunan kepada kami atas dosa-dosa kami, dan hilangkanlah dari kami segala kesusahan kami. Seperti pemuda itu memohon pertolongan kepada Allah dengan wasilah dan kemuliaan hari Jumat, Allah memenuhi kebutuhan dan memberi rezeki kepadanya dari arah yang tidak diduga. Maka dari itu, begitu pula kita, Apabila berdoa pada hari Jumat. Semoga Allah akan memenuhi berbagai kebutuhan kita. Karena sesungguhnya, Dia lah Allah Zat yang Pengasih dan Penyayang, Yang Pemurah.”

Advertisement
Advertisement

Friday, August 21, 2020

IRINGI KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN - LELAKI DAN TUJUH BATU - MUSA DAN TANAMAN

بسم الله الرحمن الرحيم  


syahadat,tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

KETERANGAN DAN DALIL MENGIRINGI KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

Penjelasan tentang Mengiringi keburukan-keburukan atau kejahatan-kejatahan yang telah lalu adalah merupakan cabang lain dari menyempurnakan atau memperkuat taubat. Juga yang dimaksud dengan mengiringi keburukan-keburukan atau kejahatan-kejahatan dengan kebaikan adalah melakukan perbuatan buruk/jahat tanpa sengaja, dan dosa perbuatan buruk tersebut akan terhapus dengan perbuatan baik.

Adapun hadits tentang mengiringi perbuatan dengan perbuatan baik adalah sebagai berikut :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة وخالق الناس بخلق حسن

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bertaqwalah engkau kepada Allah di mana saja berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, dan bergaullah terhadap manusia dengan akhlaq yang baik."

(Sunan Darimi, 2671)

 

Mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik juga merupakan satu amalan yang dapat mendekatkan manusia kepada surga, sekaligus menjauhkan manusia dari neraka. Nabi bersabda :

 

عن أبى ذر الغفارى رضي الله تعالى عنه أنه قال : قلت يارسول الله, علمنى عملا يقربنى إلى الجنة ويباعدنى من النار. قال : إذا عملت سيئة فأتبعها حسنة. قال : قلت أمن الحسنات قول لا اله إلا الله؟ قال : نعم, هي أحسن الحسنات.

 

“dari Abu Dzar Al Ghifariy bahwasanya dia berkata : aku berkata : wahai Rasulallah, ajarkanlah kepada saya suatu amalan yang dapat mendekatkan diri saya ke surga dan dapat menjauhkan diri saya dari neraka!. Nabi bersabda : apabila kamu berbuat keburukan, maka iringilah perbuatan buruk itu dengan berbuat kebaikan!. Abu Dzar berkata : apakah termasuk perbuatan kebaikan mengucapkan ‘لا اله إلا الله’? Nabi bersabda : ya, ucapan tersebut adalah sebaik-baik amal kebaikan.”

 

 

Sejalan dengan hadits di atas, mengucapkan / berdzikir ‘لا اله إلا الله’ adalah sebaik-baik ucapan/dzikir.

 

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول أفضل الذكر لا إله إلا الله وأفضل الدعاء الحمد لله

 

“Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik dzikir adalah ‘لا إله إلا الله’ (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dan sebaik-baik doa adalah ‘الحمد لله’ (Segala puji bagi Allah)."

(Sunan Tirmidzi dari Jabir bin Abdullah, 3305)

 

 

KISAH SEORANG LELAKI DAN TUJUH BATU

 

Selaras dengan hadits-hadits di atas, ada suatu kisah.

 

Yaitu, seorang lelaki pernah wuquf di ‘Arofah dan di tangannya terdapat tujuh batu. Lalu ia berkata kepada batu-batu tersebut : kalian bersaksilah untuk diri saya di hadapan Tuhan kita Allah, dengan persaksian bahwa saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

 

Kemudian, lelaki itu tertidur. Ia melihat di dalam tidur (bermimpi), sebagaimana yang biasa dilihat orang tidur. Ia melihat seakan-akan kiamat sungguh telah terjadi dah ia sedang dihisab. Lalu dipastikan baginya untuk masuk ke dalam neraka, maka para Malaikat menangkapnya dan menggiringnya ke neraka.

 

Tatkala para malaikat pergi membawa lelaki itu ke pintu neraka, tiba-tiba satu batu dari batu-batu tersebut melontarkan dirinya ke depan pintu neraka. Berkumpul para Malaikat penyiksa untuk mengangkat batu tersebut, namun mereka tidak sanggup mengangkut batu tersebut.

 

Kemudian, para Malaikat menggiring lelaki itu ke pintu neraka yang lain, dan ternyata di depan pintu itu telah ada satu batu dari tujuh buah batu-batu tersebut. Begitu seterusnya, batu-batu itu menutup setiap pintu neraka. Dan para Malaikat tidak sanggup untuk mengangkutnya.

 

Lalu, Malaikat pun menggiring lelaki itu ke bawah ‘Arsy, dan malaikat berkata : Wahai Tuhanku, Engkau lebih mengetahui tentang persoalan hamba-Mu ini. Dan sesungguhnya kami tidak dapat menemukan untuk lelaki ini, satu jalanpun menuju neraka.

 

Maka berfirman Allah Tabarak wa Ta’ala : wahai hamba-KU, telah bersaksi batu-batu tersebut bahwa engkau bersaksi “bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Maka, batu-batu tersebut tidak menyia-nyiakan hakmu. Maka, bagaimana Aku akan menyia-nyiakan hakmu? Sementara Aku adalah Zat yang Maha Menyaksikan terhadap persaksianmu itu.

 

Maka berfirman Allah : hai para Malaikat! Kalian masukkan lelaki tersebut ke dalam surga.

 

Tatkala lelaki itu telah dekat ke pintu surga, maka tiba-tiba pintu-pintu surga itu tertutup. Lalu datanglah ucapan persaksian ‘لا اله إلا الله’. Dan terbukalah pintu-pintu surga itu seluruhnya, dan masuklah lelaki itu ke surga.

 

 

TEMPAT ORANG YANG TIDAK MENGUCAPKAN ‘لا اله الا الله, محمد رسول الله

 

Dihikayatkan dari seorang zuhud, ia bercerita.

 

Pernah Nabi Musa as bermunajat kepada Tuhannya. Lalu beliau bersabda : wahai Tuhanku, engkau telah menciptakan makhluk. Dan Engkau telah memelihara mereka dengan memberikan nikmat-Mu dan rezeki-Mu. Kemudian, mengapa Engkau menempatkan mereka pada hari kiamat di neraka-Mu?

 

Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Musa as : hai Musa, bangkitlah! Lalu, tanamlah benih tanaman!.

 

Lalu, nabi Musa as menanam benih tanaman, dan beliau menyiramnya dan beliau memelihara tanaman tersebut. Hingga beliau memanennya dan beliau memilah-milahnya.

 

Lalu Allah berfirman kepada Nabi Musa as : apa yang kamu perbuat dengan tanamanmu, hai Musa?

 

Nabi Musa as bersabda : sungguh saya telah memanennya.

 

Allah berfirman : lalu apa yang kamu tinggalkan sedikit dari tanaman itu?

 

Nabi Musa bersabda : wahai Tuhanku, tidak ada yang saya tinggalkan, kecuali tanaman yang tidak ada kebaikan padanya.

 

Allah berfirman : hai Musa, maka sesungguhnya Aku akan memasukkan ke neraka orang yang tidak ada kebaikan pada dirinya.

 

Nabi Musa bersabda : siapa orang-orang itu?

 

Allah berfirman : orang yang menahan diri dari mengucapkan ‘لا اله الا الله, محمد رسول الله’.

 

 

KESIMPULAN

 

Ketahuialah, syahadat atau persaksian kita bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah merupakan ijazah kita untuk memasuki surga-Nya Allah. Dan karenanya, janganlah kita meninggalkan dunia ini dengan kekafiran. Janganlah kita mati kecuali dalam keadaan islam.


والله أعلم



Advertisement
Advertisement

SURAH AL LAHAB, TAFSIR JALALAIN

DOA SEKALIGUS ANCAMAN UNTUK ABU LAHAB DAN UMMU JAMIL ISTRINYA 


surah al masad
 

سورة المسد

مكية وآياتها خمس

Termasuk surah makiyah (surah yang diturunkan setelah hijrah), berjumlah 5 ayat.

بسم الله الرحمن الرحيم

لما دعا النبي ﷺ قومه وقال : إني نذير لكم بين يدي عذاب شديد, فقال عمه أبو لهب : تبا لك ألهذا دعوتنا, نزل

Ketika Nabi berdakwah kepada kaumnya, dan bersabda : sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian, di hadapan ku adalah siksa yang sangat pedih. Maka berkata pamannya, Abu Lahab : celaka engkau Muhammad! Apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami? Maka turunlah

1.           ﴿تَبَّتۡ﴾ خسرت ﴿يَدَآ أَبِي لَهَبٖ﴾ أي جملته وعبر عنها باليدين مجازا لأن أكثر الأفعال تزاول بهما, وهذه الجملة دعاء ﴿وَتَبَّ﴾ خسر هو, وهذه خبر كقولهم : أهلكه الله وقد هلك, ولما خوّف النبي بالعذاب, فقال إن كان مايقول ابن أخي حقا فإني أفتدي منه بمالي وولدي نزل :

﴿تَبَّتۡ﴾ Binasalah, atau merugilah ﴿يَدَآ أَبِي لَهَبٖ kedua tangan Abu Lahab, maksudnya yaitu diri Abu Lahab. Diibaratkan dengan kedua tangan sebagai Majaz. Karena kebanyakan perbuatan dilakukan dengan kedua tangan. Kalimat ini mengandung makna doa. ﴿وَتَبَّ﴾ Dan sesungguhnya dia binasa, yakni dia benar-benar merugi. Kalimat ini adalah kalimat berita, seperti perkataan mereka : semoga Allah membinasakannya, dan sungguh dia benar-benar binasa. Ketika Nabi memberi ketakutan dengan azab, ia berkata : jika yang dikatakan anak saudaraku benar, maka sesungguhnya aku menebus diriku dari azab itu dengan hartaku dan anak-anakku, lalu turunlah ayat :

2.           ﴿مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ﴾ أي كسبه, أي ولده ما أغنى بمعنى يغني.

﴿مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ﴾ Tidak berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan, maksudnya adalah yang telah ia usahakan, yakni anak-anaknya. Lafadz ‘aghna’ bermakna ‘yughni’ artinya tidak berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya.

3.           ﴿سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ﴾ أي تلهب وتوقد فهي مال تكنيته لتلهب وجهه إشراقا وحمرة

﴿سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak, yang besar nyalanya. Kata Abu Lahab menjadi tauqid/julukan namanya, karena ia mempunyai muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api.

4.           ﴿وَٱمۡرَأَتُهُۥ﴾ عطف على ضمير يصلى سوغه الفصل بالمفعول وصفته وهي أم جميل ﴿حَمَّالَةَ﴾ بالرفع والنصب ﴿ٱلۡحَطَبِ﴾ الشوك والسعدان تلقيه فى طريق النبي ﷺ

﴿وَٱمۡرَأَتُهُۥ﴾ Dan begitu pula istrinya, lafadz ini di athafkan/disandingkan kepada dhamir yang terkandung di dalam kata ‘yashla’. Hal ini dibolehkan karena di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu maf’ul dan sifatnya, yang dimaksud adalah Ummu Jamil, ﴿حَمَّالَةَ﴾ yang membawa. Dapat dibaca dengan ‘hammaalatun’ atau ‘hammalatan’. ﴿ٱلۡحَطَبِ﴾ Kayu bakar, yaitu duri dan kayu sa’dan, yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia letak di tengah jalan tempat Nabi selalu lewat.

5.           ﴿فِي جِيدِهَا﴾ عنقها ﴿حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ﴾ أي ليف وهذه الجملة حال من حمالة الحطب الذي هو نعت لامرأته أو خبر مبتدأ مقدر

﴿فِي جِيدِهَا﴾ Yang di lehernya atau pada lehernya ada tali dari sabut, ﴿حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ yakni pintalan dari sabut. Kalimat ini sebagai hal/kata keterangan dari lafadz ‘hammaalatal hathab’ yang merupakan sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ini dapat dianggap sebagai prediket dari subjek yang tidak disebutkan.


والله أعلم



Advertisement
Advertisement

Thursday, August 20, 2020

MENUNTUT ILMU – KISAH ALI DAN KHAWARIJ – KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

menuntut ilmu,keutamaan ilmu


KISAH ALI DAN KHAWARIJ

Ali bin Abi Thalib merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi   karena beliau menikahi anak Nabi bernama Fatimah Az Zahrah binti Muhammad. Ia merupakan orang yang paling awal memeluk islam dari golongan anak-anak (assabiqunal awwalun). Ali digelar dengan “كرمه الله وجهه – karramahullah wajhah”, dikarenakan beliau dari kecil terjaga dari sifat ma’siat, kesyirikan para kaumnya, kafir quraisy.

Secara singkat, kaum khawarij adalah suatu kelompok yang keluar dari golongan pengikut Ali. Dikarenakan tidak sepakat dengan keputusan Ali yang menerima tahkim dengan kelompok Muawiyah dalam perang Shiffin.

Dalam sebuah hadits, Nabi pernah bersabda :

وقال النبي ﷺ : أنا مدينة العلم و عليٌّ بابها. فمن أراد المدينة فليأت الباب.

“bersabda Nabi : aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintu nya. maka, barang siapa ingin memasuki kota, maka datangilah dari pintunya!”.

(Mustadrak Hakim Arab jilid 3 halaman 137 hadis nomor 4637)

 

Berangkat dari hadis di atas, ada kisah menarik tentang Ali dan khawarij.

Ketika orang-orang khawarij mendengar hadits tersebut, maka mereka dengki kepada Ali. Dan mereka bersepakat sepuluh orang dari pemuka mereka. Mereka berkata : “sesungguhnya kita akan bertanya kepada Ali tentang satu masalah saja. Dan kita lihat bagaimana ia memberi jawaban kepada kita. Maka jikalau ia menjawab setiap orang dari kita dengan jawaban yang berbeda-beda, maka kita mengetahui bahwa ia adalah orang yang ‘alim/pandai seperti apa yang disabdakan Nabi .

Lalu, datanglah sepuluh pemuka khawarij tadi kepada Ali dengan silih berganti dengan pertanyaan yang sama. Mereka bertanya : “wahai Ali, apakah ilmu itu lebih utama dari harta? Dengan dalil bagaimana?”

Maka, Ali bin Abi Thalib menjawab setiap orang dari sepuluh pemuka khawarij dengan jawaban yang berbeda. Beliau menjawab :

1.     Ilmu itu lebih utama dari harta.

Ilmu itu warisan para Nabi, sedangkah harta itu warisan Qorun, diktator, Fir’aun dan orang selain mereka.

2.     Ilmu itu lebih utama dari harta.

Ilmu itu dapat menjagamu, sedangkan harta itu kamu yang harus menjaganya.

3.     Ilmu itu lebih utama dari harta.

Pemilik harta memiliki banyak musuh, sedangkan pemilik ilmu memiliki banyak kawan.

4.     Ilmu itu lebih utama dari harta.

Apabila kamu mendaya-gunakan harta, maka sesungguhnya harta tersebut akan berkurang. Sedangkan apabila kamu mendaya-gunakan ilmu, maka ilmu tersebut akan bertambah.

5.     Ilmu itu lebih utama dari harta. 

    Pemilik harta dapat dipanggil dengan nama si bakhil atau si kikir, sedangkan pemilik ilmu dapat dipanggil dengan nama yang terhormat dan yang mulia.

6.    Ilmu itu lebih utama dari harta.

     Harta itu harus dijaga dari pencuri, sedangkan ilmu itu tidak perlu dijaga dari pencuri.

7.    Ilmu itu lebih utama dari harta.

     Pemilik harta, ia akan dihisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu, ia dapat memberi syafa’at pada hari kiamat.

8.    Ilmu itu lebih utama dari harta.

    Harta akan hilang bekasnya dengan sebab lamanya berdiam (tidak digunakan) dan dengan berlalunya waktu, sedangkan ilmu tidak akan hilang bekasnya, dan tidak akan usang.

9.     Ilmu itu lebih utama dari harta.

      Harta itu dapat mengeraskan hati, sedangkan ilmu dapat menerangi hati.

10.  Ilmu itu lebih utama dari harta.

     Pemilik harta akan dipanggil sebagai sang tuan dengan sebab harta, sedangkan pemilik ilmu akan disebut sang penghamba.

Dan lanjut Ali berkata : jikalau mereka bertanya kepada saya tentang masalah ini, pastilah saya akan menjawab dengan jawaban yang lain, selama saya masih hidup.

Datanglah mereka, sepuluh khawarij tadi kepada Ali dan mereka mengakui kepandaian Ali.

 

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

Dari kisah di atas, kita dapat mengetahui beberapa manfaat ilmu bagi si pemilik ilmu. Bahkan ditegaskan oleh Ali, bahwa ilmu itu jauh lebih baik dan lebih utama dari pada harta. Menuntut ilmu itu sangat dianjurkan, karena ilmu dapat bermanfaat bagi si penuntut/pencari ilmu, baik di dunia, ataupun di akhirat. Rasulullah bersabda :

قال رسول الله ﷺ : من تعلم بابا من العلم ينتفع به فى آخرته ودنياه.  أعطاه الله خيرا له من عمر الدنيا سبعة آلاف سنة, صيام نهارها وقيام لياليها مقبولا غير مردود.

“bersabda Rasulullah : barang siapa menuntut ilmu satu bab, maka akan bermanfaat baginya di akhirta dan di dunianya. Allah akan memberikan orang itu kebaikan baginya, berupa umur di dunia selama tujuh ribu (7.000) tahun. Dimana ia berpuasa di siang harinya dan beribadah di malam harinya dalam keadaan diterima tanpa ditolak.”

 

Bagi orang yang menuntut ilmu, juga akan menjadi cahaya bagi orang-orang mukmin di dunia dan di akhirat. Rasulullah bersabda :

عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله رضي الله عنهم قال رسول الله ﷺ : قراءة القرآن أعمال المكفين, والصلاة أعمال الأعاجز, والصوم أعمال الفقراء, والتسبيح أعمال النساء, والصدقة أعمال الأسخياء, والتفكر أعمال الضعفاء. ألا أدلكم على أعمال الأبطال. قيل يارسول الله وما أعمال الأبطال؟ قال طلب العلم فإنه نور المؤمن فى الدنيا والآخرة.

“dari syaikh Ibrohim, dari Syaikh Alqomah, dari Abdullah ra, beliau berkata. Telah bersabda Rasullullah : membaca Al Quran adalah amal-amal ibadah orang-orang yang merasa cukup. Dan sholat adalah amal ibadah orang-orang yang merasa lemah/membutuhkan Allah. Dan puasa adalah amal orang-orang fakir. Dan ber-tasbih merupakan amal ibadah para wanita. Dan bersedekah adalah amal ibadah para dermawan. Dan tafakkur adalah amal ibadah orang-orang dhu’afa’. Dikatakan sahabat, wahai Rasulullah , apakah amal ibadah para pemenang/pahlawan? Beliau bersabda : menuntut ilmu, karena sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya orang beriman di dunia dan di akhirat.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengilangkan kesusahan seorang muslim di dunia maka Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim di dunia maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan seorang muslim maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Dan barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan jalan baginya ke surga. Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya kecuali para malaikat akan menaungi, ketenangan akan turun, rahmat akan menyertainya dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan mahluk yang ada di sisi-Nya, dan barangsiapa diperlambat oleh amalnya maka tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya."

(Sunan Ibn Majah, 221)

 

Oleh karenanya, dari kisah dan penjelasan di atas, ditegaskan bahwa menuntut ilmu tidak akan menyebabkan kerugian, bahkan dapat memberi keutamaan bagi si penuntut/pemilik ilmu.

 

والله أعلم.

 

Sumber : Al Mawa’izul ‘Ushfuriyah

Advertisement
Advertisement